Thursday, September 30, 2010

Kandungan Emas Dalam SIM Card dan Ponsel



Anda pengguna ponsel yang suka gonta-ganti kartu SIM untuk mencari yang murah lalu begitu pulsa habis membuang kartu tersebut? Coba pikir-pikir lagi. Di dalam kartu itu ternyata ada emasnya! Ponsel bekas yang karena tua dan tidak laku dijual lalu acap dibuang begitu saja pun mengandung emas, tembaga dan perak. Percaya tidak, sebuah perusahaan di Singapura dan Jepang sudah mulai menjadi anggota Lasykar Mandiri (julukan keren untuk pemulung), khusus ponsel tua dan kartu SIM yang dibuang orang.


Proses para pemulung ponsel dan kartu SIM bekas ini sama saja dengan juragan pemulung biasa: menyerahkan hasil kumpulannya ke pengolah atau mengolahnya sendiri untuk memisahkan komponen-komponen yang ada dalam kartu SIM atau ponsel. Dari jutaan kartu dan ribuan ponsel yang dikumpulkan, mereka bisa mendulang kiloan emas murni dan puluhan bahkan ratusan kilo tembaga, perak, timah dan beberapa macam lagi.


Dari mana emas atau logam-logam itu datang? Dalam sirkit di ponsel atau chip di kartu SIM (GSM) atau RUIM (CDMA), memang ada emasnya. Emas digunakan karena terbukti mampu menyalurkan arus elektronik lebih baik dibandingkan tembaga. Produsen ponsel atau kartu SIM/RUIM tidak pernah mengurangi atau meniadakan kandungan logam mulia itu, walaupun dalam setiap unit jumlahnya mungkin cuma seperseribu gram. Nah, jika berhasil mengumpulkan satu juta kartu SIM bekas, kita bisa berharap mendapatkan 1.000 gram atau satu kilogram emas murni. Dan jika kita bisa mengurai ponsel bekas, akan lebih banyak lagi emas, perak dan tembaga yang bisa kita peroleh. Yokohama Metal Co Ltd, sebuah perusahaan pemulung mendapati kenyataan bahwa ponsel dan kartu SIM merupakan tambang emas yang benar-benar hebat. Jika dari satu ton material yang diambil di tambang emas konvensional hanya didapat sekitar 5 gram emas, dari satu ton ponsel bekas yang dilebur bisa didapat 30 kali lipat, alias 150 gram emas. Bisa Rp 45 Juta Sebulan Lasykar Mandiri emas dari Singapura, dan juga Jepang, akan masuk Indonesia dan menawarkan pembelian kartu SIM bekas dengan harga sekitar Rp 100, atau Rp 1000 per ponsel. Mereka akan membangun pabrik untuk melebur alat komunikasi tadi, menjaring emas, tembaga dan perak yang ada.


Mari kita hitung peluang mendulang emas dari kartu SIM dari beberapa operator telekomunikasi yang ada di tanah air. Kita mulai dengan Telkomsel. Tahun ini pelanggannya sudah 52 juta. Dengan pertumbuhan pelanggan yang rata-rata 30% setahun, Telkomsel membutuhkan 200%, bahkan 300% kartu SIM dari jumlah pelanggan aktualnya. Menurut seorang petinggi Telkomsel, persaingan bisnis yang ketat membuat tingkat churn – banyaknya pelanggan yang pindah operator – sangat tinggi. Untuk mendapat pertumbuhan pelanggan 1,5 juta sebulan seperti saat ini, Telkomsel harus menjual 12 juta kartu perdana (starter pack – SP). Ini berarti, dari Telkomsel saja ada 10,5 juta kartu SIM yang dibuang begitu pulsanya habis. Belum lagi dari PT Indosat, Excelcomindo (XL), dan delapan operator komunikasi nirkabel lain. Total satu bulan bisa terkumpul sampai 25 juta “kartu mati”. Kalau per kartu beratnya 2 gram, maka jumlah totalnya sekitar 50 ton.


Jika semua itu berhasil dikumpulkan dan diambil logamnya, akan didapat sekitar 25 kilogram emas sebulan, dan sekitar 100 kg tembaga. Dengan melumatkan 10.000 ponsel bekas atau seberat satu ton (diasumsikan rata-rata per ponsel beratnya 100 gram), berarti akan didapat 150 gram emas, 100 kg tembaga dan 3 kg perak. Ini di luar plastik, atau timahnya yang juga didapat. Logam-logam tadi bisa dijual dalam bentuk ingot (logam bahan baku) yang harganya sudah cukup lumayan, karena berkadar 99,99% atau kalau emas 24 karat. Kalau mengikuti harga emas dunia yang Rp 300.000 per gram, setiap bulan dari kartu SIM dan RUIM bekas saja bisa didulang harta sedikitnya Rp 7,5 miliar. Padahal modalnya hanya 25 juta kali Rp 100, alias Rp 2,5 miliar. Angka pendapatan ini akan bertambah dengan penjualan tembaga yang bisa mencapai Rp 1 miliar, juga dari karton yang dilebur jadi bubur kertas. Sepuluh ribu ponsel bekas yang dibeli sekitar Rp 10 juta akan menghasilkan emas senilai Rp 45 juta, dan tembaga senilai Rp 1 miliar. Ini di luar penjualan perak dan timah. Namun di negeri kita, tak banyak ponsel yang dibuang. Pertumbuhan pelanggan seluler atau nirkabel masih tetap sebanding dengan jumlah masuknya ponsel baru. Pasar ponsel bekas pun lebih ramai dibanding pasar ponsel baru, karena banyak anggota masyarakat dari lapisan tertentu cenderung gonti-ganti ponsel, menukar-tambah ponsel yang baru 3 bulan dimilikinya dengan yang lebih baru.

Tuesday, September 28, 2010

Antara DENSUS 88 , SWAT , SAT 81 GULTOR

DENSUS 88 AT ( Detasemen Khusus 88 Anti Teror )



Siapa yang tak kenal DENSUS 88 , Satuan Elit anti teror milik kepolisian ini sangat populer setelah peristiwa bom bali 12 Oktober 2002 yang menewaskan 202 orang. Dalam mengungkap jaringan teroris, Satuan ini terbilang sukses.Tapi seperti pepatah tak ada gading yang tak retak,
satuan ini mulai menuai protes.Yang menjadi sorotan adalah jatuhnya korban setiap operasinya.



Masih ingat saat penyergapan seorang yang diduga Noordin M top di temanggung 11 agustus 2009 yang ditanyangkan TV one live 18 jam ,belakang diketahui ternyata yg disergap ternyata bukan Noordin M Top tapi melainkan Ibrohim dan hanya seorang diri di dalam rumah.tak urung tindakan ini memicu protes dari Komnas Ham http://www.solopos.com/2009/channel/nasional/komnas-ham-penyergapan-densus-88-langgar-ham-3030



SWAT ( Special Weapon Ans Tactics )

Bagi yang sering nonton Film Action tentunya sering melihat SWAT. Dari Penampilan mulai dari sebo penutup wajah, kaca mata, rompi anti peluru dan pernak pernik persenjataan nyaris sama dengan densus kita.

SWAT berasal dari singkatan Special Weapon And Tactics. Dari namanya ada 2 kata kunci Weapon dan Tactics. Artinya selain mahir ber-weapon-ria mereka juga di bekali dan dituntut mengunakan taktik agar Target bisa ditangkap hidup.



Sat GULTOR 81 ( Satuan Penanggulanggan Teror 81 Kopassus )

Dalam sejarah Anti teror , kita pernah punya reputasi yang membanggakan dan menjadi rujukan bagi pasukan anti teror dunia

Saat itu 28 Maret 1981 ketika sekelompok teroris membajak sebuah pesawat garuda GA 206 Woyla tujuan Jakarta- Medan,dan memaksa pilot terbang ke sri langka,karena bahan bakar tak cukup pesawat akhirnya mendarat di don muang , Thailand.


Dengan perlengkapan seadanya bahkan pimpinan CIA di Thailand memberi pinjaman Flak Jacket,alat pendobrak serta sub Machine gun jenis MP5. 35 Orang dari Sat GULTOR 81 berangkat ke Thailand.Operasi Berlangsung Singkat ,Cepat dari pukul 02.30 - 02.55 seluruh teroris bersenjata didalam pesawat berhasil dilumpuhkan tanpa korban satu orangpun dari Sandera dipesawat. Densus di temanggung butuh 18 jam untuk melumpuhkan Ibrohim seorang diri didalam rumah tanpa Sandera.



 
Free Website templatesfreethemes4all.comLast NewsFree CMS TemplatesFree CSS TemplatesFree Soccer VideosFree Wordpress ThemesFree Web Templates